Sekali lagi, Cinta telah datang di pintu hatiku. Dari balik pintu kusambut dia dengan pelukan. Dari balik bahu Cinta aku melihat Kepedihan itu mengintip.
Oh, betapa hangat pelukmu, CInta. Namun aku tahu betapa hampa peluk yang ku sajikan kepadamu. Kupersilakan elok tubuhmu meregangkan penat perjalananmu di sofa ruang hatiku. Dan penuh keraguan, kucermati setiap inci tubuhmu.
Kau letakkan cangkir teh yang kusajikan tadi dan mulai memecah keheningan, "Apa kabar, Kasih? Akhirnya aku bisa mencintaimu lagi!". Begitulah ketulusan cintamu mencabik semua pertahananku. Begitulah Kepedihan itu seketika berdiri diantara kita. Menghadap Padaku!
Dan aku tersungkur, berlutut memohon kepada Kepediha untuk meninggalkanku. Aku menarik-narik ujung jubahnya dengan tangis merintih kesakitan.
"Kumohonkan, wahai Kepedihan. Bergeraklah! Menyingkirlah dari padaku serta pandanganku! Biarkan aku bisa menatap Cinta di hadapan ku kini!"
"Tidak!", Kepedihan menjawab dengan nada suaranya yang berat dan dalam. Aku pun menengadah mencari mata dari Kepedihan.
Perlahan Kepedihan menoleh kepadaku. Menatap jauh kedalam mataku dengan tajam, lalu ia berbicara perlahan dan tegas, "Tak akan kubiarkan lagi kehangatan yang pernah kau miliki hadir lagi dalam hatimu, wahai menusia. Tak ingatkah kau apa yang pernah dilakukan Cinta yang lalu kepadamu?!! Tak ingatkah kau betapa hancurnya kau saat Sang Harapan menggoreskan luka dihatimu dengan pergi meninggalkanmu? Masihkah kau belum belajar, wahai manusia?!
Biarkan kesendirianmu ini tetap tanpa ketakutan. Ketakutan akan saat dimana kau akan meringkuh lagi dalam kegelapan, menangisi apa yang akan kau terima sekarang. Bukankah ini yang kau inginkan? Bukankah ini lebih indah daripada harus terikat semua ketakutan saat kau terbangun dari tidurmu dan dia tak lagi disampingmu, melainkan sedang menikmati mentari pagi bersama kekasih hati lainnya? Bukankah dengan begini kau lebih bebas?"
"TIDAK!!!" aku berteriak. "Kau tidak tahu sedikitpun apa yang aku rasakan. Kau tidak tahu sedikitpun tentang apa yang menjadi keinginanku, wahai Sang Kepedihan!"
Akupun jatuh lagi diatas kedua lututku. Merasakan hati yang bercampur amarah dan kesedihan. Air dari pelupuk mataku mulai membasahi lantai kayu yang menopangku. Sejenak hening meliputi seluruh ruangan. Hanya suara hujan yang mencurah diatas genting dan angin yang meniup daun jendela.
"Hatiku terlalu penuh kini," aku melanjutkan perlahan sambil terperi. "penuh dengan kesepian. Penuh dengan keinginan untuk membagikan rasa cinta yang telah terlalu sesak untuk hatiku menahannya.
Aku tahu betapa sakitnya yang pernah ku terima. Dan memang aku tak ingin merasakannya lagi. Tapi aku tak pernah merasakan kehangatan seperti yang telah tersimpan dalam hati Cinta selama ini. Ketulusan yang dipersiapkannya hingga melangkah di ampang pintu hatiku.
Aku pun tahu betapa kehangatan ini telah menghilang. Namun Cinta telah memercikkan lagi bara kehangatan yang dibawanya serta kedalam tungku hatiku. Dan ini adalah segalanya yang pernah aku cari.
Bukan! Bukan ini yang aku inginkan! Bukan kesendirian yang aku cari. Bukan kebebasan yang aku cari. Bahkan seorang pertapa pun membutuhkan kekasih. Aku tak ingin meringkuh lagi melawan sakit dalam kegelapan malam.
Dan aku tahu, wahai Sang Kepedihan. Dan aku percaya begitupun bahkan engkau pun tak tahu apa yang dipersiapkan Sang Mentari esok pagi untuk ku. Tapi aku yakin, apapun itu, aku tak peduli lagi kini. Karena bila Cinta bisa menunggu dengan sepercik kehangatan yang tersimpan rapi, hingga baranya bisa mencapai hatiku, seribu kepedihan seperti dirimu pun akan kutelan demi Cinta. Jadi, menyingkirlah daripadaku, wahai Kepedihan. Karena Cinta telah menghadapku kini! Dia telah menjemputku kini!"
Aku hendak berdiri menghadapi Kepedihan. Namun ku dapati dia telah pergi dari padaku dan Cinta telah berdiri di hadapanku. Mendekap pipiku dengan kuda tangan halusnya, serta menyeka air mata yang masih bergulir dari mataku.
"Sssshhh....," dengan lembut Cinta berkata, "Aku sudah disini sekarang, love. Tak ada lagi yang perlu kamu takuti. Hanya tinggal kita berdua kini. Tinggal kita berdua menghadapi semuanya. Bersama-sama..."
Lalu Cinta bersandar di dadaku. Mendekapku. Dan kurasakan kehangatan itu kembali lagi memancar dari padaku.
Medan, Val 2009
*For her who have saved the love in such a stormy years and opened it for me one more time...*