Saturday, March 15, 2008

Complicated

Malam mulai jatuh keatas ombak yang menyapu pantai. Burung-burung camar satu persatu menghilang dari langit yang mulai menghitam. Bayangan sepasang manusia berjalan disisi air laut. Gori masih terduduk diatas pasir pantai menatap hilangnya mentari kuning kedasar lautan.

Dua jam berlalu hingga rembulan mengintip Gori yang menatap kosong ke lautan hitam dari balik kumpulan awan yang menyapu bintang. Telepon genggam Gori berbunyi. Dia mengeluarkannya dari saku celana jeans hitamnya dan melihat sebuah nama tertulis di layar handphone itu. Beberapa saat di biarkannya telepon itu berbunyi di genggamannya. Sampai akhirnya hilang dan dia memasukkan telepon itu kedalam sakunya lagi.

Gori kembali menikmati angin pantai yang meniup kencang kemeja flanel yang melapisi kaos putih yang di kenakannya sejak pagi tadi berangkat dari rumah. Seorang wanita datang dan duduk di sebelah Gori. Sekilas Gori melihat kearahnya, mengenalinya, lalu kembali memandang jauh ke dalam gelapnya malam yang meliputi lautan.

“Gue udah tau bakal nemuin elu disini, Gor”
“Ngapain elu kesini, Sis?” balas gori tanpa bergeming sedikit pun.
Sisy menatap gori. “Ya nge jemput elu dong, Gor. Dari tadi pagi lu menghilang. Janji mo nongkrong di cofee shop tadi siang, lu kaga nongol-nongol. Kenapa lagi, Gor?”
Sissy memalingkan pandangannya dari Gori dan melihat kearah yang sama dengan yang dilihat Gori. Seakan mencoba memahami apa yang ada di benaknya saat itu. “Si Mba itu? Atau istrimu? Si Rasya?”

“Huh…” desah Gori singkat mejawab pertanyaan Sissy.
“Kayanya bukan si mba itu deh…kalo..”
Gori memotong kalimat Sissy “Kalau cinta datang, rentangkan tanganmu, sambutlah dia…Kalau cinta mengusik kesendirianmu, rayakanlah dengan kebahagiaan yang meluap-luap….Kalau cinta pergi daripadamu, kenangkanlah dan jangan berhenti mencinta.”

Sissy terdiam mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Gory. “Gw ga tau lagi mo gimana, Sis. Hati gw udah bener-bener kehilangan cinta untuk Rasya. Tapi gw ga bisa ngelupain Putri, anak gw. Saat ini lu tau kan betapa besar rasa yang gw simpan untuk wanita itu? Sementara semua yang dia rasakan untukku hanya sebatas teman yang akan ada saat temannya dalam kesusuahan.”

“Iya. Tadi malam kan elu udah cerita, Gor. Gw ngerti apa yang lu hadapi sekarang”

“Sebesar kasih ku kepadanya, tak akan cukup untuk memilikinya. Karena aku tahu, Sis, dalam hatiku menginginkannya. Tapi nanti aku harus kembali pada Putri. Dengan segala kebencianku pada Rasya. Haruskah aku membesarkan Putri diantara prahara kami berdua?

Cinta ini, Sis, cinta ini bukan untuk memiliki. Cinta ini bukan untuk sepasang kekasih yang berjalan di sana. Cinta ini hanya ungkapan kebahagiaanku karena sebuah hati begitu indah bisa menerima ku yang rendah ini. Cinta ini terlahir untuk menjadi pengembara yang selalu menyendiri dalam pengembaraannya.

Seindahnya dunia ini, aku tak akan bisa memberikan selamanya untuknya. Yang kumiliki Cuma sesaat yang ingin aku berikan untuk mencurahkan semua rasa yang memenuhi dadaku lalu merasakan hangatnya kebahagiaan yang ia rasakan atas semua yang kuberikan. Kebahagiaan itu akan menjadi keabadian yang selalu menghiasi dinding hatiku. Dimana setiap saat aku bisa duduk diantara dinding itu dan mengenangnya kembali. Membaca satu persatu tulisannya yang tertulis indah dengan tinta emas hingga matahari tenggelam di dalam cakrawala.

Yang dia minta adalah sebuah keabadian yang aku tak punya. Yang dia inginkan adalah kedamain yang dapat di peluknya selalu untuk selamanya. Yang dia butuhkan adalah cinta yang dapat memeluknya erat dalam kehangatan yang berkepanjangan.

Selamanya adalah cinta, Sis. Demi rembulan yang menyinari malam, aku tak akan pernah mengizinkan hatiku berbicara padanya. Karena kata-kata yang keluar dari hatiku kepadanya adalah racun-racun yang akan mengambil mimpi-mimpi bahagianya daripadanya.”

Lama angin pantai malam itu mengiringi berlalunya kata-kata Gori. Membawa semua huruf-demi hurufnya ke dalam lautan malam.

“Aku ga ngerti, Gor. Kenapa kamu rela merasakan sakit itu? Kenapa sih kamu ga ngomong aja ke mbak yang kamu cintai itu sekarang? Biarin aja apa yang terjadi, yang penting kan kamu udah mengungkapkan perasaanmu?”

“Dan kehilangan dia?!!” Jawab gori dengan nada sedikit lebih tinggi. “Aku lebih baik menikmati sakit ini daripada harus kehilangan dia karena apa yang hatiku ceritakan. Gw ga punya waktu selamanya, Sis. Kalau boleh, gw masih ingin mendengarkan setiap bunyi yang keluar dari hatinya melalui bibirnya. Kalau boleh gw masih ingin duduk di dekatnya dan berbicara tentang apapun yang terlintas saat itu. Kalau boleh sampai aku harus melepaskannya, gw masih pengen melihat dia tersenyum tanpa terusik keluhan-keluhan hatiku.”

“Tapi kan elu ga pernah tau perasaan dia ke elu gimana kalo elu ga bilang ke dia.”

“Sis…sis.., gw tanya deh ke elu. Seandainya elu jadi dia, dan gw dateng dengan keadaan gw sekarang, status gw sekarang, menawarkan sebuah cinta ke elu? Apa elu mau? Apa elu ga jadinya menjauh dari gw?”

Sissy terdiam tanpa menjawab.

“Gw tuh seorang bapak dari seorang Putri, Sis. Dan dia juga tau apa yang terjadi antara gw dan Rasya. Is that a promise for eternity?!!!”

Mereka membiarkan beberapa pasangan lagi berlalu didepan mereka tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi.

Gori berdiri dan menarik tangan Sissy “Yuk kita balik. Udah malem banget. Ntar lu dimarahin lagi ma emak lu…”

Sebuah senyuman mengikuiti sisi beranjak dari atas pasir.
“Hehe…iyah…”

Mereka pun berjalan ke area parkiran.
“Kapan lu bakal ngenalin dia ke gw, Gor?”
“Kalo gw udah siap untuk ngelepas dia, dong” jawab Gori dengan tersenyum.

Didalam perjalanan menuju jogja, mereka bercanda sambil mendengarkan alunan musik.

“Gor, CD nya The Fray mana lu taro? Masa Setengah jam di jalan dengerin bublee?”

“Keknya gw lempar ke jok blakang deh. Coba liat di belakang dah” jawab gori sambil menujuk dengan tangan kirinya sementara tangannya yang lain sibuk memegang setir.

Sisi meraih CD yang tergeletak di atas bangku belakang mobil Gory.
“Ada nih. Pasang ya, Gor. Udah lama gw ga…..”
Kalimat Sissy terputus saat dia menemukan foto seseorang yang sangat dia kenal di dalam kemasan CD tersebut. Bukan Putri, Bukan juga Rasya. Tapi orang yang sangat dekat dengan dia.

Gori menyadarai kalimat Sissy yang terputus dan melihat kearah Sissy. Gori menyadari apa yang di liat Sissy dan dengan cepat merebut lembar foto tersebut. Tak ada satu katapun yang keluar dari mulut masing-masing mereka. Sissy memasang CD tersebut dan duduk terdiam sepanjang perjalanan. Dan Gori tak melakukan pembelaan apapun terhadap keberadaan foto tersebut di dalam mobilnya dan menyetir mobilnya sampai Jogja tanpa mengucapkan apapun lagi. Menunggu reaksi Sisy yang tak akan pernah ada. Hanya lagu-lagu The Fray yang mengisi kabin mobil sampai jogja.

Tuesday, March 11, 2008

The Distance of The trembling heart

I hear the calling of love
The distance don't burried the sound
I hear it loud and clear
Yet I know it called from afar

I am lying awake facing the clouds beneath the sky
Starring the eternity of the air
My ear dragged me to reach for the call
Yet my heart chained me to the ground

Don't wanna kill my self again
Don't wanna reach for my pain again
But I don't wanna lay aroud and die
For the call of love are killing my heart
For the love afar are to be left growing and watched from a distance

My heart

Apakah isi di dalam hati ku kini?
coretan tinta yang tergores angin musim dingin
sisa-sisa cinta yang mulai meradang oleh kesendirian
emosi jiwa yang meluka sepotong rasa tanpa pelampiasan

Dimanakah semua kemegahan jiwa yang dulu pernah ada?
hilang oleh guratan waktu yang selalu menyiksa
saat raga menua dan jiwa memaksa
terluap cinta yang tersia-sia

Di malam hari aku masih bermimpi
esok pagi akankah datang bidadari
dia yang akan membawa semua kesia-siaan yang terbuang
melepaskan semua belenggu kesendirian

Apakah isi dalam hati ku ini?
tersia-siakah rasa untukmu ini?
yang tak mungkin ku tumpahkan kedalam hatimu, bidadari
saat hati mu terlalu putih untuk hitamnya cinta disini
dan cinta tak akan memilikimu saat ini

a line

Thy heart are now broken
thy heart are now deserted
did thy feel this heart?

Sunday, March 07, 2004

Cinta...sebuah cerita manusia paling megah. Ada kepedihan yang selalu menghantui setiap titik dan komanya. Ada kebahagian yang menemani di setiap huruf dan spasinya.
Cinta...seperti hari yang kau lalui. Dimulai dengan pagi dan berakhir di malam hari. Kecerahan mentari buatmu selalu bahagia hingga akhirnya

Thursday, March 04, 2004

The Lust

Perhaps this shouldn't be told...

Halusnya rambut mu ketika telapak tanganku menggenggamnya, seraya tatap matamu mulai membinal. Badai didada ku betalu-talu menghantam tembok jantungku ayng mulai melemas waktu bibirku mencumbu dua helai bibirmu. Hangat dan nyaman di keremangan yang aku tak tahu entah dimana.

Nyerinya gigitanmu dengan gemas menggigiti bibirku, halusnya kulit tubuhmu ketika jemariku mencari detak jantungmu, rambut halus di belakang lehermu, menghantarkan libido yang begitu hebat. OH...merah bibirmu memang terasa sempurna ketika lidahku merabanya. Dan bahasa tubuhmu pun mulai liar.

Dan ketika kubukakan kelopak mata ini mencoba melihat kedalam kesenanganmu, kau pun menghilang. Hanya ada aku sendiri yang tergeletak sendiri disapa cahaya mentari pagi yang menyusupi jendela kamarku. Hanya imajinasi indah semalam rupanya.

Monday, March 01, 2004

I want to let you know that I was deleting your id from my friend list. I am not angry or offended by all the words you said or for the things you didn't do. I need to erase you from my feelings, from my heart, from my mind. As time is really scary everyday I wake up and see your smiley is still yellow.

I can't stand not to even say hello to you. Dang!!!!!!!!!!!!!